Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts

Teori Big Bang (Hubble Baiquni) versus Teori Partikel Berproses (Behram Nazwar Syamsu)

Di dalam teori penciptaan alam semesta, setidaknya kita mengenal 2 teori yang populer, yakni teori Big Bang dan teori partikel yang berproses.

Teori Big Bang yang saat ini telah menjadi mainstream, pertama kali diperkenalkan oleh  Edwin Hubble. Teori ini juga mendapat dukungan dari Fisikawan terkemuka dunia Albert Einstain (1879-1955).
Teori Big Bang menyatakan alam semesta ini, bermula dari satu ledakan besar atom raksasa, yang terjadi sekitar 13,7 milyar tahun yang lalu.
Dan teori ini mendapat dukungan ilmuan muslim Prof Baiquni, yang menurutnya, Teori Big Bang sangat sesuai dengan berita yang terdapat di dalam ayat-ayat Al Qur’an.
bigbang
Proses Pembentukan Alam Semesta, menurut Baiquni
Berikut tathbiq (meminjam istilah M Quraish Shihab), Prof. Achmad Baiquni terhadap ayat-ayat yang terkait dengan penciptaan alam semesta:
1. Pada saat penciptaan (sekitar 13,7 milyar tahun yang lalu), langit (ruang waktu) dan bumi (ruang materi), yang semula padu (dalam titik singularitas fisis), dipisahkan (ketika keluar dari padanya)
# Q.S : Al-Anbiyaa’ (21) ayat 30 : “Dan tidaklah orang-orang kafir itu melihat bahwa sama’ (ruang-waktu) dan ardh (ruang-materi) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya.”
2. Dalam pembangunan langit (ketika ruang waktu keluar dengan ledakan yang dahsyat dari titik singularitas) dilibatkan kekuatan yang tiada taranya (sehingga terjadi gejala inflasi), yang kemudian diekspansikan (sebagaimana ia tampak kini sebagai sebagai universum yang mengembang)
# Q.S. Adz-Dzariyaat (51) ayat 47 : “Dan sama’ (ruang-waktu) itu Kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya Kami-lah yang meluaskannya.“
3. Pada pendinginan yang sangat cepat (sebagai akibat inflasi tercapai keadaan “kelewat dingin”) dan terjadi transisi fase, yang menyebabkan materialisasi energi secara berangsur, (bersamaan dengan terciptanya alam-alam lain di samping kita): materi yang muncul sebagai fase kedua sedangkan energi adalah fase pertamanya
# Q.S. Fushshilat (41) ayat 9, “ Katakanlah patutkah kalian kufur kepada yang telah menciptakan ardh (ruang-materi) dalam dua yaum (fase) dan kalian mempersekutukan-Nya; padahal Dia Tuhan semesta alam.”
semesta15
4. Dengan adanya energi materi dalam ruang alam, maka dimunculkanlah spin partikel sub nuklir, elektron, foton, dan lainnyasebagai gerak pusaran serta ditetapkannya satu muatan-muatan yang merupakan sumber kekuatan atau gaya (gravitasi, nuklir kuat, nuklir lemah, dan listrik magnet) dalam empat tahapan
# Q.S. Fushshilat (41) ayat 10 “Dan atasnya Dia ciptakan rawasiy dan memberkahinya serta menentukan aqwatnya dalam empat yaum sebagai jawaban bagi yang bertanya.”
5. Sementara itu, ketika langit (ruang alam) penuh “embunan” (sebagai akibat dari inflasi, sehingga energi berubah menjadi materi). Allah mengundangkan segala peraturan yang ditaati ruang dan materi (sebagai hukum alam yang mengendalikan sifat dan kelakuan jagad raya)
# Q.S. Fushshilat (41) ayat 11 : ” Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan langit (ruang-alam) dan ia penuh “embunan (dukhan)” (dari materialisasi energi), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada al-ardh (materi) : Datanglah kalian mematuhi (peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa; keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan.”
planet1
6. Allah menjadikan tujuh langit (ruang alam) dalam dua tahap, (pada saat inflasi dan sesudahnya) dan menetapkan hukum-hukum alam yang berlaku di dalamnya. Serta menghiasi langit dunia dengan pelita-pelita (dalam bentuk bintang, bulan, mata hari dan sebagainya) serta menjaganya ( dengan memberikan atmosfer, lapisan ozon dan sebagainya)
# Q.S. Fushshilat (41) ayat 12 : “Lalu diciptakan-Nya tujuh langit (tujuh ruang alam) dalam dua tahap, dan pada setiap langit (ruang alam) Dia mewahyukan urusannya masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui”
7. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit (ruang alam) dan tujuh Bumi padanannya (atau materi masing-masing alam yang di dalam ayat tersebut dinyatakan memiliki hukum mereka masing-masing yang tidak perlu sama)
# Q.S At-Talaaq (65) ayat 12 : “Allah yang menciptakan tujuh langit (tujuh ruang alam) dan tujuh bumi padanannya (materi masing-masing alam). Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
8. Allah menciptakan langit (ruang alam) serta bumi (materi alam) dan apa saja yang berada di antaranya dalam enem priode atau tahapan, sambil menegakkan pemerintahan-Nya. (tahap inflasi dan tahap ekspansi ruang alam yang sesuai dengan tahap energi dan tahap materialisasi yang diikuti tahap penciptaan interaksi gravitasi, nuklir kuat, nuklir lemah dan elektromagnetik)
# Q.S. As-Sajdah (32) ayat 4 : “Allah-lah yang menciptakan langit (ruang-alam) dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam yaum, dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati)… “
semesta16
9. Dia menciptakan langit (ruang alam) serta bumi (materi alam) dalam enam tahapan sementara itu telah ditegakkan pemerintahan-Nya pada materi yang bersifat fluida (atau segal peraturan atau hukum alam-Nya telah efektif pada seluruh makhluk-Nya, yang pada waktu itu masih berujud zat alir yang sangat rapat dan sangat panas)
# Q.S. Hud (11) ayat 7 : ” Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-alam dan materi dalam enam tahapan, sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir, untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya”.
10. Allah menahan alam semesta untuk tidak “mbedal” dan untuk tidak mengembang terus tanpa henti
# Q.S. Fathir (35) ayat 41 : ” Sesungguhnya Allah menahan ruang-alam dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka), dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah; sesungguhnya Dia
adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun”.
11. Allah akan mengecilkan kembali jagad raya seperti sedia kala, ketika jagad raya diciptakan pada awalnya, yang menjamin bahwa alam kita bersifat tertutup (closed universe)
# Q.S. Al-Anbiyaa’ (21) ayat 104 : ” Pada hari Kami gulung ruang alam laksana menggulung lembaran tulis; sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan, begitulah Kami akan mengembalikannya; itulah janji yang akan kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan
melaksanakannya”.
semesta12
Teori Big Bang bukan tidak ada yang menentangnya, salah satu penentangnya adalah Dr. Behram (Berhram Kursunoglu, Direktur Pusat Theoritical Studies pada University Miami USA). Menurut Teori Dr. Behram, penciptaan alam semesta bukanlah berasal dari peristiwa ledakan atom raksasa (Big Bang), melainkan akibat dari partikel-partikel yang berproses.
Proses Pembentukan Alam Semesta, menurut Nazwar Syamsu

Teori Dr. Behram ini mendapat dukungan oleh seorang cendikiawan muslim, yang bernama Nazwar Syamsu.
Di dalam bukunya yang berjudul “Al Qur’an, dasar tanya jawab Ilmiah”, Nazwar Syamsu mencatat setidaknya ada 5 hal yang masih misteri dalam Teori Big Bang, yaitu :
1. Bagaimana bisa terwujud atom raksasa ?
2. Jika atom raksasa tersebut di merupakan, ciptaan ALLAH, mana dalilnya dalam Al Qur’an ?
3. Dimana dahulu atom raksasa itu berada, sebelum terjadi ledakan ?
4. Mengapa ada sebagian galaksi yang semakin mendekat ?
5. Mengapa planet-planet (materi) yang terjadi akibat ledakan, berbeda-beda wujud dan fungsinya ?
Menurut Nazwar Syamsu, alam semesta bermula dari ALMAA’ (Kekosongan Mutlak), yang diberi Rawasiya (Daya Magnet), sehingga muncul partikel-partikel yang membentuk atom Hydrogen.
Hydrogen atas ketentuan ALLAH kemudian mempergandakan diri membentuk elemen-elemen lain, yang kemudian berkumpul menjadi molekul-molekul benda.
1. Alam semesta bemula dari Kekosongan Mutlak
# Q.S. Hud (11) ayat 7 :” Dan Dia-lah yang telah menciptakan sama’ (ruang-alam) dan ardh (materi) dalam enam yaum (tahapan), sedang semesta-Nya di atas ALMAA’ (kekosongan mutlak), untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya…”
2. Kemudian ALLAH memberinya Rawasiya (Daya Peneguh Magnet)
# Q.S. Fushshilat ayat 10 :” Dan Dia menjadikan Rawasiya (Magnet sebagai Peneguh) dari atasnya, dan Dia memberkahi serta menentukan kadar aqwat [daya yang membentuk kekuatan] padanya dalam empat yaum (tahapan). Itulah penjelasan bagi yang mempertanyakan.”
semesta17
Para ilmuwan kini memahami bahwa semua proses yang berlangsung di alam semesta ini diatur dan diteguhkan oleh empat macam interaksi (gaya, force), yaitu:
Pertama, Interaksi Gravitasi, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang mempunyai massa, mengatur tarik-menarik benda-benda, mulai dari meneguhkan kita pada permukaan bumi sampai kepada pembentukan tatasurya dan galaksi.
Kedua, Interaksi Elektromagnetik, yaitu gaya yang bekerja pada seluruh partikel yang bermuatan listrik, mengatur seluruh reaksi kimia, mulai dari terbentuknya atom sampai kepada proses berfikir dalam otak manusia.
Ketiga, Interaksi Kuat (Strong Interaction), yaitu gaya yang mengikat partikel-partikel (zarrah-zarrah) proton dan netron yang menyusun inti atom.
Keempat, Interaksi Lemah (Weak Interaction), yaitu gaya yang mengatur perubahan suatu atom menjadi atom lain, mulai dari proses keradioaktifan (transmutasi inti) sampai kepada perubahan hidrogen menjadi helium pada matahari dan bintang sehingga tetap memancarkan cahaya.
semesta19
3. Dengan adanya Rawasiya (Daya Peneguh Magnet), terjadilah proses partikel sehingga terbentuk kumpulan hydrogen
# QS. Al-Anbiya’ (21) ayat 30 : “Tidakkah orang-orang kafir itu memperhatikan bahwa ruang alam dan materi dulunya sebingkah (kumpulan Hydrogen), lalu KAMI pisahkan keduanya dan KAMI jadikan tiap yang hidup dari ALMAA’ (atom asal Hydrogen). Tidakkah mereka beriman ?”
Ketika ALMAA’ (Kekosongan Mutlak) diberi Rawasiya (Daya Magnet), maka berputarlah kekosongan tadi menjadi inti atom yang berputar pada sumbunya.
Kini ALMAA’ tersebut telah menjadi Nuclear. Kemudian Nuclear yang terdiri dari ALMAA’ dan Rawasiya yang berputar menimbulkan Elektron dan Positron sebagai pembungkus, komposisi kesemuanya ini dinamakan Hydrogen sebagai atom asal.
4. Atas ketentuan ALLAH, kemudian atom asal Hydrogen ini menggandakan diri, sehingga membentuk kumpulan Hydrogen. Kumpulan Hydrogen ini lalu terpisah, membentuk elemen-elemen lain, yang kemudian berkumpul menjadi molekul-molekul benda.
Dari kedua teori ini, baik Teori Big Bang maupun Teori Partikel Berproses, sama-sama mendapat sokongan dari ilmuwan muslim, dan masing-masing pihak menggunakan dalil Al Qur’an, untuk memperkuat argumennya.
Mana yang benar ?
Hanya kepada ALLAH “kebenaran sejati” itu berasal, dan kita hanya mencoba untuk mendekatinya…
WaLlahu a’lamu bishshawab
Tuesday, June 18, 2013
Posted by Unknown

ISRAEL VS PALESTINA

Asap membumbung menyusul serangan roket Israel
ke Gaza/Reuters

JAFFA–Emanuel Hatzofe, 84, tak bergegas menuju ke tempat perlindungan berupa beton tebal memanjang di Jaffa, Minggu, ketika terdengar bunyi sirene di langit Tel Aviv, mengingatkan adanya serangan roket dari jalur Gaza.
Pensiunan kapten kapal itu, tadinya pernah jadi gerilyawan gerakan bawah tanah Yahudi, membawa bangku kayunya, juga bantal kecil, menuju tempat perlindungan.
Sirene tersebut memberi waktu maksimum 90 detik kepada warga untuk berlindung. Suara sirene itu usai ketika Emanuel, sambil berupaya menahan sakit di lututnya, sampai di ujung beton perlindungan, saat Laut Tengah menampakkan sinar matahari di sisi lain.
Terdengar ledakan ganda di langit, di suatu tempat di Jaffa, tak jauh dari pantai.
“Itu dua ledakan,”  katanya dengan nada yakin. Peralatan interseptor Iron Dome menghantam dua roket jarak panjang yang ditembakkan dari wilayah Palestina, yang keempat kalinya dalam empat hari.
Hal itu juga menunjukkan kemajuan para pejuang Hamas dalam penguasaan teknologi roket sehingga serangan bisa mencapai kawasan perkotaan Israel, setidaknya di wilayah selatan.
(Dalam enam hari terakhir Israel menghujani wilayah Gaza dengan serangan roket, menelan nyawa ratusan orang Palestina dan menimbulkan kerusakan fisik yang besar. Kecaman atas kebrutalan tersebut mengalir dari seluruh dunia, sementara upaya-upaya diplomasi untuk gencatan senjata mulai dilakukan.)
Emanuel memutar matanya dan memandang ke bulatan asap putih di langit di atas kota tua Arab yang sunyi dan masjid kecil, yang kini berada di distrik Tel Aviv. Itulah satu-satunya petunjuk adanya perang di selatan.
“Tak akan pernah ada solusi atas masalah ini,” keluhnya.
Sambil duduk di luar bengkelnya, berupa gerbong kereta dari kayu antik yang berasal dari Belgia, dia berupaya mengingat kembali masa lalu.
 “Saya bergabung di Palmach, ketika kami berperang melawan Inggris dan Arab. Kamu tahu?” Palmach adalah penyerang elit, bagian dari gerakan bawah tanah Haganah, di kawasan Palestina.
“Orang-orang Inggris lah yang mengacaukan semuanya. Mereka harusnya membagi tanah itu antara orang Yahudi dan Arab, tapi itu tak mereka lakukan.”
Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan pengambilan suara pada 1947 untuk membagi tanah Palestina bagi negara Yahudi dan negara Arab. Bangsa Arab menolak keputusan itu dan memilih angkat senjata.
Perang tahun 1948 membuat banyak orang Arab terusir dari Jaffa dan  ribuan menjadi pengungsi di Gaza. Saat itulah negeri Israel berdiri.
Patung karya Emanuel, diberi nama Boat, yang terbuat dari pasir lembah danau Galilea, kini berada di Tel Aviv Museum of Art.
Sekarang dalam usia tua, dengan rasa sakit di punggungnya, dia hanya membuat patung-patung kecil sambil memandang kehidupan yang terus berjalan.
Mereka yang tinggal di pusat keramaian Jaffa tak punya tempat untuk berlindung dari serangan, tak seperti kota-kota Israel selatan yang bertetangga dengan Gaza, dimana serangan roket merupakan kenyataan sehari-hari dalam delapan tahun terakhir.
Namun orang-orang usia lanjut tak begitu peduli dengan bunyi sirene. Mungkin karena kaki mereka juga sudah lemah untuk mampu cepat-cepat berlari.
 “Semua ini (konflik Israel-Palestina) akan berlangsung selamanya,” tandas Emanuel. (Reuters/lt)
Monday, June 17, 2013
Posted by Unknown

Shalat Jumat Hari Ini


Setiap minggu para muslimin tentu pergi Shalat Jumat dan mendengarkan khutbahnya sebelum shalat dua rakaat. Sudah ratusan kali saya shalat jumat dalam hidup ini, yang artinya sudah ratusan kali pula mendengarkan khutbahnya khatib. Namun demikian bisa dihitung dengan jari beberapa khutbah yang masih teringat dengan jelas apa yang diungkapkan oleh khatib. Biasanya khutbah-khutbah yang selalu teringat adalah topik yang sangat menarik, yang penyampaiannya juga menarik. Padahal sebenarnya setiap khutbah itu menarik, paling tidak ada bagian yang menarik. Hanya saja kadang penyampaiannya ada yang bikin ngantuk, bikin mengernyitkan kening, dan akhirnya bikin kurang tertarik (sering lihat yang pada tidur gak? bukan saya, saya cuma nunduk bentar :P ). Namun demikian saya tetap berpikir sebenarnya setiap khutbah itu memang menarik, layaknya manusia sekembar apapun selalu ada ciri khas yang membuat pribadi dia unik, dan otentik. Hal tersebut yang membuat saya sejak dulu berniat menuliskan setiap keunikan dari khutbah yang baru saya dengar di shalat jumat (selain itu bisa memaksa saya agar tetap terjaga selama khutbah berlangsung :P ). Jadi saya mulailah keinginan itu di renungan pertama ini:

Saya tidak akan menulis khutbah secara runtut, namun saya hanya akan menulis apa yang membekas di hati dan pikiran saya saat itu. Jadi maaf kalau tulisan ini menjadi sedemikian tidak metodologis dalam pemikiran dan penyampaian. Hal yang membekas di hati dan pikiran saya dari khutbah tadi adalah mengenai: “Mengapa Allah menyuruh kita shalat?”. Seketika saya teringat pertanyaan transedental seorang teman mengenai hakikat Tuhan menciptakan manusia untuk menyembah-Nya, teman saya itu pernah bertanya “Kenapa Tuhan menciptakan manusia untuk menyembahnya, kurang Mahanya-kah Ia hingga harus menciptakan “sesuatu” untuk menyembah-Nya?”
Pertanyaan kawan saya tadi sedikit bertalian dengan khutbah jumat hari ini, mengapa Allah menyuruh kita Shalat? Mewajibkan kita bertakbir berulang kali didalamnya, membaca ayat-ayat suci, ruku, i’tidal, hingga sujud merendahkan diri dan hati (yang memang sungguh rendah ini) serendah-rendahnya dihadapannya yang Maha Tinggi lagi Maha Agung? Mungkin kawan saya tersebut akan bertanya kembali. “Kurang Tinggi dan Agungnya-kah Ia hingga mewajibkan kita merendahkan diri bersujud pada-Nya minimal 34 kali sehari?”
Sedikit banyak khutbah jumat hari ini menjawab pertanyaan tersebut. Kenapa kita harus shalat? Kurang Agungnyakah Ia? Butuhkah ia disembah?
Khatib menjelaskan “Tidak, sesungguhnya ia tidak butuh disembah.” “sesungguhnya tatkala semua manusia menyembahnya, hal itu tak akan mampu menaikan Keagungan-Nya, begitu pula tatkala semua manusia tak ada yang menyembah-Nya, hal itu tak akan mampu mengurangi Keagungan-Nya. Maka ia tak butuh kita sembah” Lalu untuk apa ia menurunkan kewajiban shalat lima waktu pada saat Nabi Muhammad SAW menjalankan Isra dan Mi’raj? “Hal tersebut tak lain dan tak bukan untuk kepentingan manusia sendiri” “Sesungguhnya manusia sendiri yang membutuhkan Shalat”. Saya seratus persen bisa menerima walaupun masih harus belajar, mencari dan membaca buku mengapa kita betul-betul butuh shalat. Yang bisa saya rasakan adalah, saya memang butuh shalat, karena dengan shalat saya senantiasa diingatkan hakikat hidup saya ini (ini subjektif saya loh ya?), dan gak mesti seketika itu selalu jadi lempeng, kadang pas shalat juga malah tarik-menarik gak jelas karena baru sadar tadi saya ngelakuin dosa, trus sekarang saya shalat dan akhirnya nanya sendiri “Mau lo tuh sebenernya apa sih, Jap? Ngelakuin dosa iya, shalat iya” tentunya refleksi demikian amat sangat diperlukan semua manusia tanpa kecuali. Kita butuh refleksi.
Ya! saya butuh shalat. saya butuh berkomunikasi dengan-Nya. Saya butuh diingatkan dan dijauhkan dari segala hal buruk dalam hati yang senantiasa bersarang didalamnya. Yang dapat dibersihkan dengan shalat (ini pribadi saya lagi ya…). Saya lelah mendengki, saya lelah menjadi sombong, saya lelah pemarah. Dan dengan shalat saya seperti menemukan pitstop, beristirahat sejenak, memperbaiki kerusakan, untuk melaju lebih cepat dan baik lagi dan berusaha tak mengulangi “kerusakan” yang sama. Walau pada prakteknya saya masuk pitstop, dan yang rusak masih spare-part yang itu-itu lagi. Kenapa bisa terjadi?
Khatib menjelaskan: “Karena kita selama ini shalat hanya sebatas pada saat kita shalat” Dalam arti kata: kita shalat sebatas melakukan gerakan dan membaca bacaan yang diwajibkan [ada saat itu, padahal sesungguhnya shalat itu ya sepanjang kita bernafas. Kita terus shalat. Bingung? sama saya juga *pegangan dulu*. Maksudnya setelah selesai shalat seharusnya kita tetap mengamalkan apa yang tersirat dalam gerakan, bacaan, dan filosofi shalat itu sendiri. “Allahuakbar” pada saat shalat tidak berhenti saat kita selesai takbir, namun senantiasa terucap dalam hati pikiran dan perbuatan sehari-hari, hal tersebut tentu akan mencegah kita berlaku sombong (semestinya).
Namun ada satu hal yang amat sangat amat sangat amat sangat (sampe tiga kali karena saya suka banget) saya sukai dan cintai pada saat saya shalat selain Allahuakbar (yang lain juga, tapi yang ini berasa banget buat saya), yaitu: Salam terakhir: “Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh” sembari menengok ke kanan, lalu “Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh” sembari menengok ke kiri. Saya selalu berusaha kembali khusyuk di salam terakhir tersebut, karena salam ke kiri dan ke kanan tersebut mengandung makna memberi salam kepada seluruh umat manusia didunia, yang berarti saya akan tulus mencintai dan menebar kasih kesetiap manusia di kiri dan kanan saya. Subhanallah. Indahnya dunia dan hidup ini kalo aja filosofi salam terakhir itu diresapi, dimaknai, dan diamalkan seluruh umat manusia di dunia. Oleh setiap koruptor pencuri uang rakyat, oleh setiap pembunuh yang berdarah dingin, oleh setiap teroris pembom bunuh diri, dan oleh setiap pelanggar serta penginjak hak-hak asasi manusia lainnya.
Ironis, saat kita mengetahui pelaku ketidakbenaran tersebut adalah orang-orang yang juga shalat.
Maafkan setiap kebodohan penulisan, saya hanya mencoba merenungi , belajar dan terus mencari arti hidup ini.
Thursday, June 13, 2013
Posted by Unknown

Renung Ju'mat

 

Meninggalkan Sholat Jum’at 3x

Shalat jum’at adalah sebuah kewajiban bagi ummat Islam, khususnya laki-laki dewasa. Kewajiban ini dituangkan di dalam firman Allah;

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.( Al-Jumu’ah: 9)

Adapun kewaj

iban itu bagi kaum muslim laki-laki berdasarkan kepada hadis nabi; Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan kewajiban melakukan shalat jum’at bagi lelaki muslim. Jika kewajiban itu ditinggalkan, maka ia mendapatkan dosa besar.

Kalimat Ummat Nabi Muhammad memiliki dua makna, ummat da’wah dan ummat istajabah. Ummat da’wah adalah semua orang yang hidup setelah beliau diutus sebagai Nabi dan Rasul. Sedangkan umat Istijabah adalah manusia yang hidup setelah kerasulan beliau dan memutuskan untuk menerima dakwah baliau. Pengeluaran seseorang dari ummat nabi Muhammad memiliki makna penetapan kekufuran seseorang.

Benarkah orang yang meninggalkan shalat Jum’at ia keluar dari agama islam, alias murtad? Mari kita tinjau hadis-hadis yang menerangkan bahayanya meninggalkan shalat jum’at, apalagi sampai tiga kali berturut-turut adalah

Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali tanpa udzur dan tanpa sebab (yang syar’i) maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR Malik)

Barangsiapa meninggalkan shalat jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan mengunci mata hatinya (HR at-Tirmidzi)

Ibnu Abbas mengatakan ::

Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali berturut-turut maka ia telah melemparkan ikatan Islam ke belakang punggungnya (HR Abu Ya’la dari kata-kata Ibnu Abbas)

Dengan memperhatikan hadis-hadis tentang meninggalkan shalat jum’at, kita temukan bahwa tidak ada nash yang jelas yang menunjukkan batalnya keimanan seseorang. Memang Ibnu Abbas mengatakan telah melemparkan tali Islam ke belakangnya, maksud dari kata ini bukanlah melepaskan agama Islam, tetapi melepaskan sebagian kewajiban di dalam Islam. Terlebih bahwa ucapan itu bukan berasal dari Rasulullah saw sehingga tidak bisa digunakan untuk memastikan batalnya keislaman seseorang.

Dari sini, maka orang yang tidak menjalankan shalat jum’at tiga kali tidak dinyatakan sebagai orang kafir, apalagi kalau ia masih mau shlat yang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab & Semoga Bermanfaat
Posted by Unknown

( KISAH RENUNGAN ) TANGISAN BIDADARI KECIL

 - Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan. Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"

"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"

"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"

"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"

"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"

"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"

"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"

"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Posted by Unknown

Ghibah Keburukan Yang Makin Disenangi (Bergunjing)


Sumber : Ummu Zaidan Feikar

Perbuatan tercela, tapi menjadi biasa. Sebab, dikemas dalam acara yang menarik di televisi.

Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.

Menggosip adalah tindakan yang kurang terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.

Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku sebagai tukang gosip.

Saat ini, hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis.

Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, isinya kurang lebih adalah menggosip atau bergunjing.

Awal tahun 2002 ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lainnya.

Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan. Padahal jika kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan merasa ngeri.

Ghibah dalam Islam

Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

Benarkah orang cenderung suka meng-ghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata bukan dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita senantiasa sadar akan bahayanya. Benar kiranya jika dikatakan bahwa dulu orang tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang menurunkan kualitas iman di televisi. Semoga kita bisa arif menyikapinya.

Menangkal Ghibah

Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan melalui pengajian.

Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah, mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?

1. Berbicara Sambil Berfikir

Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?” Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

2. Berbicara Sambil Berzikir

Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri

Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

4. Buang Penyakit Hati

Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung, diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.

5. Posisikan Diri

Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadis yang menjanjikan bahwa Allah akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu heran jika Allah pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka cacat orang.

6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi

Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita Koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang.

Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.*
Posted by Unknown

Perkelahian/Tawuran,Apakah Bukti Kehebatan?


A. Selamat dari Lisan dan Tangan

Sebagai bahan renungan, mari kita pahami lagi sabda Rasulullah Muhammad saw berikut ini:



الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ




Seorang muslim ialah seseorang dimana muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (Muttafaq ‘alayh)

Apa yang dimaksud dengan “selamat” di hadits tersebut?

Prof. Quraish Shihab menjelaskan ada dua jenis selamat. Misal kita naik bis, kereta atau pesawat. Di samping kita duduk orang lain. Orang yang duduk di samping kita dikatakan selamat dari kita bila:






  • Kita diam, tidur atau membaca buku/koran/majalah sehingga tidak mengganggunya. Ini disebut as-salâm as-salbiy (السّلام السلبي) atau damai pasif.

    Di buku “Membumikan Al-Qur’an Jilid 2” beliau menguraikan bahwa damai pasif adalah batas antara keharmonisan/kedekatan dan perpisahan, serta batas antara rahmat dan siksaan. Seorang muslim menyandang sifat damai, paling tidak, jika dia benar-benar tidak dapat memberi manfaat kepada selainnya maka jangan sampai dia mencelakakannya. Kalau tidak bisa memberi, maka paling tidak tidak mengambil hak orang lain. Kalau tidak dapat menggembirakan pihak lain, maka paling tidak tidak meresahkannya.

    Atau yang lebih baik lagi:




  • Kita sapa orang tersebut lalu berbincang ramah. Ini disebut as-salâm al-îjâbiy (السّلام الإيجابي) atau damai aktif, lalu mencapai puncaknya dengan ihsân.



Nah, Apakah berkelahi, adu otot, adu jotos, saling tendang, hajar-menghajar atau tawuran sesuai dengan definisi “selamat”? Tentu tidak, bukan?

Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Sahabat Salman al-Farisi ra. seraya berkata,

“Wahai hamba Allah, nasihatilah aku!”
“Jangan marah!” Jawab Salman al-Farisi ra.
“Aku tidak mampu.”
“Bila kamu marah, tahanlah lidahmu (dari mengatakan hal-hal jelek) dan tanganmu (dari melakukan perbuatan maksiat).”

Ada sebuah pertanyaan yang terdengar agak aneh sekaligus “lucu” dilontarkan sehubungan dengan hadits di atas. Begini pertanyaannya, “Di hadits tersebut kan disebutkan sesama muslim. Berarti kalau non muslim, boleh dong kita hajar?”

Mungkin karena belum pernah belajar ushul fiqh sehingga pertanyaan tersebut terlontar akibat permainan kata dan logika. Mari kita bahas demi pemahaman keagamaan yang benar.

Pertanyaan tersebut termasuk kategori mafhûm mukhâlafah dan mafhûm mukhâlafah seperti ini keliru.

Apa itu mafhûm mukhâlafah? Bagaimana mafhûm mukhâlafah yang benar?

Di buku “Ushul Fiqih” Prof. Muhammad Abu Zahrah menjelaskan bahwa ulama ahli ushul fiqh mendefinisikan dilâlah mafhûm al-mukhâlafah sebagai berikut:

Dilâlah mafhûm al-mukhâlafah ialah menetapkan kebalikan dari hukum yang disebut (manthûq) lantaran tidak adanya suatu batasan (qayd) yang membatasi berlakunya hukum menurut nashnya. Dengan demikian suatu nash sekaligus dapat menunjukkan dua hukum, yaitu hukum yang langsung ditunjukkan oleh bunyi lafazh (manthûq) suatu nash dan hukum yang dipahami dari kebalikan nash tersebut. Jika bunyi suatu nash menunjukkan pada hukum halal dengan adanya batasan (qayd), maka nash tersebut juga dapat dipahami sebagai hukum yang mengharamkan bila qayd-nya tidak ada. Seperti firman Allah:


وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ



Dan barang siapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. (QS an-Nisâ’ [4]: 25)

Bunyi (manthûq) ayat tersebut menunjukkan adanya kehalalan bagi seorang merdeka menikahi hamba sahaya dengan batas (qayd) orang tersebut tidak mampu menikah dengan wanita merdeka.

Ayat tersebut juga dapat dipahami kebalikan (mafhûm mukhâlafah) dari bunyinya yakni haramnya seseorang yang merdeka menikahi hamba sahaya bila ia mampu menikah dengan wanita merdeka.”

Sebagai catatan tambahan, manthûq adalah hukum yang ditunjukkan oleh ucapan lafazh itu sendiri. Adapun mafhûm ialah hukum yang tidak ditunjukkan oleh ucapan lafazh itu sendiri, tetapi dari pemahaman terhadap ucapan lafazh tersebut.

Itulah definisi mafhûm mukhâlafah. Lantas, bagaimana mafhûm mukhâlafah yang benar? Di buku “Usul Fiqih” A. Hanafie, MA menjelaskan bahwa untuk sahnya mafhûm mukhâlafah diperlukan empat syarat, yaitu:

1. Mafhûm mukhâlafah tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat, baik dalil manthûq maupun mafhûm muwâfaqah.

Contoh yang berlawanan dengan dalil manthûq:


وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ


Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. (QS al-Isrâ’ [17]: 31)

Mafhûm mukhâlafah­-nya kalau bukan karena takut kemiskinan berarti boleh dibunuh. Tetapi mafhûm mukhâlafah ini bertentangan dengan dalil manthûq:


وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ


Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (QS al-Isrâ’ [17]: 33)
Adapun conton yang berlawanan dengan mafhûm muwâfaqah sebagai berikut:


فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا


maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka (QS al-Isrâ’ [17]: 23)

Yang disebutkan hanya kata-kata kasar. Mafhûm mukhâlafah­-nya berarti boleh memukuli. Tapi, mafhûm mukhâlafah ini bertentangan dengan mafhûm muwâfaqah-nya, yaitu kata-kata keji saja tidak boleh apalagi memukulnya.

2. Yang disebutkan (manthûq) bukan suatu hal yang biasa terjadi.


وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ



Dan anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri (QS an-Nisâ’ [4]: 23)

Dengan perkataan “yang dalam pemeliharaanmu”, tidak boleh dipahami bahwa yang tidak dalam pemeliharaan boleh dinikahi. Perkataan itu disebutkan sebab biasanya anak tiri dipelihara ayah tiri karena mengikuti ibunya.

3. Yang disebutkan (manthûq) bukan dimaksudkan untuk menguatkan suatu keadaan.


الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ


Seorang muslim ialah seseorang dimana muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (Muttafaq ‘alayh)

Dengan perkataan “muslim lainnya” tidak boleh dipahami bahwa orang-orang non muslim boleh diganggu. Perkataan tersebut dimaksudkan alangkah pentingnya hidup rukun dan damai di antara orang-orang Islam sendiri.

Selain itu, sekian banyak dalil menjelaskan bahwa kita harus berakhlak baik kepada siapa pun, menjadi rahmat bagi segenap alam, toleransi antar sesama dan sebagainya.

Penjelasan ini adalah jawaban pertanyaan yang sedang kita bahas.

4. Yang disebutkan (manthûq) harus berdiri sendiri, tidak mengikuti yang lain.


وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ


janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. (QS al-Baqarah [2]: 187)

Tidak boleh dipahami kalau tidak i’tikaf di masjid boleh mencampuri, karena syarat melakukan i’tikaf adalah di masjid, kalau tidak di masjid i’tikaf tidak sah.

Jadi, perkataan i’tikaf dikumpulkan dengan perkataan masjid, karena masjid ini menjadi syaratnya.

Demikianlah uraian ringkas tentang mafhûm mukhâlafah. Semoga Allah SWT senantiasa memberi hidayah dan pertolongan kepada kita semua sehingga bisa menjadi hamba shaleh, amin.
Posted by Unknown

Hadits 36 : SESAMA MUSLIM WAJIB SALING BANTU


عن ابي هريرة – رضي الله عنه قال- عن النبي صلى الله عليه و سلم قال – من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من مرب يوم القيامة ، ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا و الآخرة ، ومن ستر مسلما ستره الله فى الدنيا و الآخرة ، و الله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه . و من سلط طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا الى الجنة ، وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله و يتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة و حفتهم الملائكة و ذكرهم الله في من عنده ، و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه – رواه مسلم بهذا اللفظ
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalannya, maka tidak akan dipercepat kenaikan derajatnya”. (Lafazh riwayat Muslim)
[Muslim no. 2699]


Hadits ini amat berharga, mencakup berbagai ilmu, prinsip-prinsip agama, dan akhlaq. Hadits ini memuat keutamaan memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang mukmin, memberi manfaat kepada mereka dengan fasilitas imu, harta, bimbingan atau petunjuk yang baik, atau nasihat dan sebagainya.

Kalimat “barang siapa yang menutup aib seorang muslim” , maksudnya menutupi kesalahan orang-orang yang baik, bukan orang-orang yang sudah dikenal suka berbuat kerusakan. Hal ini berlaku dalam menutup perbuatan dosa yang terjadi. Adapun bila diketahui seseorang berbuat maksiat, tetapi dia meragukan kemaksiatannya, maka hendaklah ia segera dicegah dan dihalangi. Jika tidak mampu mencegahnya, hendaklah diadukan kepada penguasa, sekiranya langkah ini tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Adapun orang yang sudah tahu bahwa hal itu maksiat tetapi tetap melanggarnya, hal itu tidak perlu ditutupi, Karena menutup kesalahannya dapat mendorong dia melakukan kerusakan dan tindakan menyakiti orang lain serta melanggar hal-hal yang haram dan menarik orang lain untuk berbuat serupa. Dalam hal semacam in dianjurkan untuk mengadukannya kepada penguasa, jika yang bersangkutan tidak khawatir terjadi bahaya. Begitu pula halnya dengan tindakan mencela rawi hadits, para saksi, pemungut zakat, pengurus waqaf, pengurus anak yatim, dan sebagainya, wajib dilakukan jika diperlukan. Tidaklah dibenarkan menutupi cacat mereka jika terbukti mereka tercela kejujurannya. Perbuatan semacam itu bukanlah termasuk menggunjing yang diharamkan, tetapi termasuk nasihat yang diwajibkan.

Kalimat “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. Kalimat umum ini maksudnya ialah bahwa seseorang apabila punya keinginan kuat untuk menolong saudaranya, maka sepatutnya harus dikerjakan, baik dalam bentuk kata-kata ataupunpembelaan atas kebenaran, didasari rasa iman kepada Allah ketika melaksanakannya. Dalam sebuah hadits disebutkan tentang keutamaan memberikan kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan dan keutamaan seseorang yang menuntut ilmu. Hal itu menyatakan keutamaan orang yang menyibukkan diri menuntut ilmu. Adapun ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syar’i dengan syarat niatnya adalah mencari keridhaan Allah, sekalipun syarat ini juga berlaku dalam setiap perbuatan ibadah.

Kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum disalah satu masjid untuk membaca Al-Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya” menunjukkan keutamaan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an bersama-sama di Masjid.

Kata-kata “sakinah” dalam hadits, ada yang berpendapat maksudnya adalah rahmat, akan tetapi pendapat ini lemah karena kata rahmat juga disebutkan dalam hadits ini.

Pada kalimat “Apabila berkumpul suatu kaum” kata “kaum” disebutkan dalam bentuk nakiroh, maksudnya kaum apasaja yang berkumpul untuk melakukan hal seperti itu, akan mendapatkan keutamaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mensyaratkan kaum tertentu misalnya ulama, golongan zuhud atau orang-orang yeng berkedudukan terpandang. Makna kalimat “Malaikat menaungi mereka” maksudnya mengelilingi dan mengitari sekelilingnya, seolah-olah para malaikat dekat dengan mereka sehingga menaungi mereka, tidak ada satu celah pun yang dapat disusupi setan. Kalimat “diliputi rahmat “ maksudnya dipayungi rahmat dari segala segi. Syaikh Syihabuddin bin Faraj berkata : “menurut pendapatku diliputi rahmat itu maksudnya ialah dosa-dosa yang telah lalu diampuni, Insya Allah”

Kalimat “Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain disisi-Nya” mengisyaratkan bahwa, Allah menyebutkan nama-nama mereka dilingkungan para Nabi dan para Malaikat yang utama. Wallaahu a’lam.

Posted by Unknown

RENUNGAN JIHAD AL-MAQDISI



Ketika fenomena terorisme mulai muncul di wilayah Indonesia, banyak dari kita yang cenderung berpikir konspiratif dalam mengkaji dan membahas fenomena tersebut. Pemahaman kita terhadap terorisme yang disematkan kepada golongan Islam radikal juga semakin terkotak-kotak dan sporadis. Sebagian besar buku yang kita temukan selalu terbagi menjadi dua kutub. Kutub pertama adalah buku-buku yang mencoba mewacanakan kerasnya dakwah Islam dan bahaya laten sebuah gerakan Islam. Sementara itu, kutub kedua berusaha membela (walaupun tidak secara langsung membenarkan) aktivitas jihad sebagian umat Islam. Kutub pertama memiliki pendukung dari kalangan Islam liberal atau kalangan nasionalis sekuler yang fobia terhadap gerakan Islam, terutama yang berkarakter revivalis atau fundamental. Kutub kedua memiliki pendukung dari kalangan gerakan Islam lintas benua. Kutub kedua adalah mereka yang selama ini sudah memiliki kaitan secara historis atau emosional dengan aktivitas jihad di tingkat global—medan jihad seperti Afghanistan. Gaya berpikir konspiratif dalam melihat kasus terorisme juga banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh dari kalangan kutub kedua. Gaya itu menjadikan Amerika atau Yahudi sebagai biang keladi. Sehingga setiap keributan terjadi, dugaan terkuat akan kembali kepada Amerika atau Yahudi. Di luar kedua kutub itu, tersisa pewacanaan dari kalangan Islam yang memilih jalan tengah untuk menyikapi kasus terorisme. Kelompok terakhir ini akhirnya bergabung dengan kelompok humanis dalam menyikapi kasus terorisme.

Sulit sekali mencari buku atau literatur yang komperehensif untuk membahas kekeliruan pemahaman terorisme di kalangan umat Islam. Padahal, kita memerlukan sebuah perenungan yang mendalam mengenai hal tersebut sebelum kita memberikan apresiasi terhadap aktivitas terorisme yang terjadi belakangan ini. Hal tersebut menjadi penting bagi kita semua yang bergelut dalam aktivitas dakwah Islam.
Buku Waqofaat Ma`a Tsamaratil Jihad karya Abu Muhammad al-Maqdisi dapat dijadikan rujukan untuk memberikan pondasi awal tersebut.

Berikut ini adalah beberapa poin perenungan terhadap kesalahan aktivitas Jihad umat Islam menurut al-Maqdisi.

Salah Memilih Sasaran
Aktivitas yang sering kita sebut عملية الاستشّهدية "bom syahid" telah melenceng jauh dari batasan-batasan syar`i yang ditetapkan oleh para ulama. Pertimbangan awal diperbolehkannya operasi tersebut adalah besarnya maslahat yang didapatkan umat Islam sekaligus memberikan mudharat sebesar-besarnya kepada musuh. Operasi bom syahid yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Palestina misalnya, telah menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan bagi Israel sekaligus serangan yang efektif untuk tujuan yang sudah jelas (menghancurkan aset-aset penting Israel). Namun, belakangan ini kita sering melihat banyaknya pemuda Islam yang meniru operasi model tersebut di tempat lain. Dengan semangat yang kurang lebih sama, mereka meledakkan diri sendiri, kemudian membunuh secara acak sasaran yang dianggap musuh Islam. Persoalannya adalah, mereka melakukannya di wilayah yang dihuni banyak orang Islam.
Mereka beroperasi di Karachi, Lahore, Bombay, dan Jakarta. Semua itu adalah wilayah yang banyak dihuni umat Islam. Ketika saudara-saudara kita di Irak dan Afghanistan berusaha menghancurkan gudang senjata milik tentara asing, para "teroris" ini justru memilih hotel dan cafe sebagai sasaran utama. Padahal, sangat jelas kalau di tempat-tempat tersebut terdapat orang-orang Islam. Mereka sering beralasan bahwa operasi pengeboman tersebut merupakan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat (fasik), meskipun di dalam syariat, hukuman bagi orang-orang fasik bukanlah dibunuh.
Kita harus memahami betapa berharganya darah umat Islam yang tertumpah. Menurut para ulama, membiarkan hidup seribu orang kafir masih lebih baik daripada menumpahkan segelas darah seorang mukmin. Jika mereka (para mujahid teror) itu ingin membunuh beberapa orang kafir, sebaiknya mereka tidak melakukannya dengan bom. Operasi tersebut seharusnya bisa diselesaikan dengan beberapa tembakan saja sehingga tidak perlu ada umat Islam yang jadi korban.
"Barangsiapa keluar menyerang, kemudian ia menghantam orang yang baik dan jahat, ia tidak menghindari orang mukmin dan orang yang mendapat jaminan perlindungan, maka ia bukan termasuk golonganku" dan dalam satu riwayat "dan aku bukan termasuk bagian dari dia." [HR.Muslim dan Abu Hurairah]

Mengumbar Ancaman di Saat Lemah
Fenomena lain yang mengiringi isu terorisme adalah video-video rekaman di internet. Era globalisasi dan digital telah menjadikan para pelaku teror ini bak selebritas internasional. Mereka mengunggah (upload) video-video yang berupa ancaman terhadap para penguasa kafir dan musuh Islam. Kita pun dapat dengan mudah mengakses video-video tersebut.
Menurut al-Maqdisi, hal ini merupakan kesalahan fatal dalam sebuah strategi jihad. Ancaman-ancaman tersebut justru membuat musuh semakin mawas diri dan bersiaga penuh. Tindakan tersebut seperti halnya seorang pemburu yang mengusik hewan buruannya sebelum memanah. Padahal, para pengancam itu tidak lebih hebat dari kenekatan sekelompok hooligan. Kondisi tersebut tentu saja membuat musuh semakin gusar dan bereaksi seolah-olah mereka benar-benar terancam. Orang yang cerdik adalah mereka yang mampu menutupi kelemahannya. Dalam situasi perang, orang yang cerdik akan menghantam musuh yang lengah akan kekuatan lawannya.
Allah berfirman dalam surat al-Anfal: 44
وَ يقللكم فى أعينهم ليقضي الله امرا كان مفعولا . . .
"Dan, kamu ditampakkan sedikit di mata mereka karena Allah hendak melakukan urusan yang mesti dilaksanakan"

Menyepelekan Amal Jama`i
Jihad adalah kewajiban setiap individu muslim. Amal ini merupakan puncak dari semua amal. Namun, krisis jamaah saat ini adalah sulitnya mencari sekelompok mujahid yang berjalan tenang, terarah, tidak banyak omong, tidak mudah goyang, dan rapuh. Pentingnya sebuah jamaah adalah untuk menaungi amal jama`i. Sementara itu, salah satu syarat tegaknya amal jama`i adalah adanya aktivitas yang berkesinambungan dengan target yang jelas.
Amal jama`i membutuhkan adanya manhaj dan ushul yang harus selalu ditaati. Hal inilah yang membedakannya dengan amal fardhi (individu). Terkait dengan aktivitas jihad, maka jauh lebih baik apabila dilakukan dalam konteks kejamaahan. Meskipun syariat tetap membolehkan apabila hal tersebut dilakukan sendirian.
"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Q.S as-Shaf: 4)
Jika ada seorang ikhwah yang soleh dan taat ingin pergi berjihad, sedangkan ia tidak terikat pada suatu jamaah, maka besar kemungkinan hari ini kita melihatnya berada di Palestina. Tahun berikutnya, ia akan berada di Kashmir. Tahun berikutnya lagi, ia di Afghanistan, begitu seterusnya. Dia adalah seorang mukmin yang pergi menjawab panggilan jihad di mana pun. Menurut al-Maqdisi, amalan yang dilakukan ikhwah itu merupakan amalan yang terbaik bagi dirinya. Tidak diragukan juga bahwa pelakunya adalah penolong agama Allah. Namun, ada hal yang jauh lebih utama bagi agama Allah. Yaitu beramal dan berjihad melalui jamaah yang memiliki manhaj yang jelas serta memiliki skala prioritas.
Jamaah yang baik adalah jamaah yang para qiyadahnya memiliki pemahaman yang baik terhadap fikih syar`i dan fikih waqi (realitas). Mereka menguasai ilmu tersebut secara mendalam dan terperinci sehingga jamaahnya tidak memandang realitas secara dangkal dan lugu. Para qiyadah ini tentu saja tidak menyikapi suatu urusan dengan bekal perasaan dan semangat yang kosong.
Fenomena para pelaku pengeboman belakangan ini menunjukkan hancurnya jamaah yang menaungi mereka. Para qiyadah mereka telah menyia-nyiakan darah dan semangat para pemudanya. Mereka juga seperti tidak belajar dari kesalahan orang lain. Dalam konteks Indonesia, mereka adalah para mujahid yang mengikuti arahan qiyadah mereka untuk hijrah ke Afghanistan pada akhir tahun 80-an. Mereka hijrah dengan alasan terdapatnya sistem pemerintahan Islam serta metode perlawanan yang bersih di negeri tersebut. Ingat, mereka telah meninggalkan medan dakwah yang sangat krusial di negeri mereka sendiri (Indonesia).
Setelah beberapa tahun, Afghanistan tidak lagi seperti yang mereka pikirkan sehingga mereka menjadi terpecah-pecah. Sebagian dari mereka kembali ke Indonesia, tentu saja dengan tampilan para mujahid yang baru saja menantang maut di medan perang. Situasi dunia yang menyudutkan umat Islam dalam konteks terorisme membuat mereka menjadi golongan yang paling diintai oleh pihak intelijen.

Memisahkan Qital Nikayah dengan Tamkin
Ditinjau dari hakikatnya, para ulama membagi jihad ke dalam dua istilah. Pertama adalah "jihad difa`i" (defensif) yang bermakna pembelaan terhadap negeri dan kehormatan umat Islam dari musuh yang menyerang. Istilah kedua adalah "jihad thalab" yang bermakna menyerang musuh-musuh Islam di mana pun mereka berada.
Jihad yang berupa peperangan fisik (qital) dapat dibagi menjadi dua, yaitu qital nikayah dan qital tamkin. Qital nikayah adalah memukul dan menghantam musuh. Sementara itu, qital tamkin adalah menguasai suatu daerah agar umat Islam dapat menjalankan syariatnya secara utuh. Memisahkan kedua jenis qital ini sama dengan menghancurkan seluruh usaha yang telah dibangun.
Ada seorang panglima mujahidin di suatu negeri yang menjawab pertanyaan wartawan asing. Si wartawan bertanya apakah sang panglima akan mengambil alih pemerintahan setelah negerinya dibebaskan? Si panglima menjawab bahwa dirinya adalah seorang mujahid yang tujuan hidupnya adalah memerangi musuh-musuh Allah di muka bumi. Baginya, politik dan kekuasaan bukanlah keahliannya. Jawaban si panglima ini tentu saja jawaban yang fatal. Bagaimana mungkin kita memisahkan qital nikayah (peperangan fisik) dengan qital tamkin (perebutan kekuasaan), sedangkan kita tahu betul pentingya memayungi dakwah secara institusional.
Terkait dengan para pelaku terorisme belakangan ini. Kira-kira, apakah mereka paham terhadap pentingnya qital tamkin dalam usaha memenangi dakwah? Saya pikir tidak. Kalaupun mereka paham, tidak ada sedikit pun usaha konkret yang bisa kita lihat saat ini. Seolah mereka hanya mengenal satu cara: "qital nikayah". Kita saja yang sudah berijtihad untuk melebur dengan sistem demokrasi masih belum bisa berbuat banyak terhadap umat Islam saat ini.
Qital nikayah sudah menjadi realitas umum di berbagai belahan dunia Islam saat ini. Namun, kita perlu memahami qital tamkin sebagai bagian penting dari kemenangan dakwah. Qital tamkin sering juga disebut tahrir (pembebasan) oleh Hizbut Tahrir. Sementara itu, Ikhwanul Muslimin lebih sering menyebutnya dengan istilah "ishlahuddaulah". Qital tamkin memerlukan kemampuan serta syarat yang berbeda dari qital nikayah. Di dalamnya, diperlukan program yang mencakup seluruh bidang dengan sumber daya yang juga memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Seharusnya umat Islam mulai membangun peradabannya sendiri.

Masih banyak poin perenungan dari al-Maqdisi. Lain kali kita bertemu lagi.
Wallahu`alam bima yasna`un
Posted by Unknown

Kata Bijak dan renungan untuk Remaja islam tentang jodoh / pacaran .

Jika jodoh adalah TAKDIR maka aku tak perlu risau mnerka dia atau dia jodohku dengan jalan mencoba menjalin hubungan tanpa kehalalan sebagai alasan sebuah usaha pencarian.


Jika jodoh adalah TAKDIR maka aku harus beriman padanya, pada takdir-Nya bahwa jika sebuah nama telah ditetapkan menjadi belahan jiwa kita, kita pasti dipertemukan dengannya dalam ikatan yang di ridhai_Nya.

Maka cukuplah masa lajangku, ku isi dengan perbaikan dan menuntut ilmu, cukuplah itu memberiku ketenangan ketimbang melanglang buana menjadi petualang cinta.

Namun, jika jodoh adalah pilihan,, Maka aku wajib berbenah diri, karena Rasulullah pernah bersabda "... pilihlah yang baik agamanya agar kamu beruntung..."
 
Ya, jika aku tetap memilih seseorang hanya kerana silau akan kekayaannya meski agama dan akhlaknya buruk, maka pernikahan ku tak akan pernah dibarkahi_Nya.


TAKDIR ataupun PILIHAN tugas kita tetap sama, yaitu menuntut ilmu, berbenah diri dan membangun cinta kita pada Allah Ta'aala.
Posted by Unknown

Renungan Santri : Kisah Duka Pemuda Akibat Pacaran تَوَدُّد

Bismillah,
Saudaraku yang budiman, Beginilah buah cinta yang dihadirkan akibat berpacaran, pacaran adalah sesuatu terlarang dalam agama ini dimana syaitan menggoda para pasangan  dari hamba yang dimabuk asmara ini seolah dunia hanya milik mereka berdua,
Maka pacaran adalah sesuatu tindakan yang menyimpang dalam agama ini, mari kita perhatikan balasan bagi hamba yang berpacaran dan buah dari kisah cinta setiap insan yang hanya mementingkan kedunyaan dan terbalut nafsu semata yaitu pacaran.
Ada kisah saeorang wanita jelita yang dirundung duka, pada suatu masa, di hati dia terasa tersiksa, jiwapun merana dan hidup terasa tak berarti jika cinta terdustai, Dunia serasa menghimpit diri, hidup seolah terjepit, dan hari harinya diselimuti perasaan sakit.
Bertanya dalam hati dia, apa salahku? hingga dia tega melukai aku dan kenapa dia tega meninggalkan aku, sungguh lelaki ini telah melukai hati dan sungguh lelaki ini telah menghianati janji dan cinta yang pernah bersemi. Kekecewaan mulai menghujam ,kebencian datang, dan dendampun tak tertahankan.
Saudaraku pembaca yang baik hati begitulah expresi rasa sakit hati yang sering hadir bagi siapapun yang cintanya terbalas dusta karena awal bercinta karna nafsu semata, karna awal tujuan Alloh dia lupakan karna awal permulaan yang dimulai kemaksiatan dan larangan dalam agama yaitu berpacaran yang memabukkan setiap insan.
Berpacaran sangatlah membahayakan bagi kesehatan jiwa, pacaran adalah jalan kemudhorotan dan kekecewaan, pacaran adalah pintu gerbang saling menyakiti, pacaran adalah pintu kejelekan dalam sejarah hubungan cinta manusia, dan terkadang banyak sekali pacaran mengakibatkan derita yang berkepanjangan, untuk itu takutlah wahai pemuda dimana syaitan selalu membisikan asmara didalam dada, jagalah aturan main berinteraksi dengan wanita dan sebaliknya.
Mari renungkan buah cinta akibat dasar nafsu syahwat semata, seorang manusia yang dimabuk cinta berduka ketika cinta khianati, dan siapapun memahami betapa tidak enaknya dikhianati, setelah kebersamaan berjalan sekian lama, kian terpupuk perasaan cinta dan asmara yang memabukkan, dipupuklah cinta itu oleh seorang pemuda dan wanita hingga mengkristal menjadi sebuah keyakinan yang salah.menjadi sebuah kepercayaan yang mebelok, dan ahkirnya mereka dimabuk cinta dengan memberikan sesuatu yang seharusnya disucikan, lupa akan tujuan hidup dimana semua harus ikut pada tuntunan, dia sia siakan amanah dari Alloh dengan umbaran nafsu yang menyesatkan, dan ahkirnya kehormatanpun sering dipertaruhkan demi asmara ini,
Wahai pemuda kenapa engkau tak menjadi hamba berbudi kenapa engaku hanya mengikuti kata hati yang tak terbimbing kebenaran, apakah kamu merasa sudah tidak butuh kebahagaiaan, apakah kamu sudah merasa cukup denngan penderitaan akibat cinta pacaran ini, renungkanlah wahai saudaraku pemuda, jadilah hamba yang dewasa, yang bisa berfikir matang dengan akibat cinta buta, jadilah hamba yang sederhana dan mudah menerima nasehat para orang tua, gembirakanlah dia orang tuanmu dengan kebaikan hidupmu, yaitu kebaikan yang dihasilkan karena ketaatanmu kepada Rab-mu, Kebaikan yang diperoleh karena kamu mentauladani dan patuh pada petunjuk nabimu, dan kebaikan yang di dapat dari para salaful ummah sebagaimana mereka memimpinmu dalam bertakwa.
Kamukan sudah memahami bahwa kenyataan mabuk asmara adalah menyakitkan, kenyataan ahkir dari buah cinta karna balutan nafsu hanyalah kedustaan, dan kenyataan hubungan ini sangat banyak menimbulkan kekecewaan.
Maka sekarang mau kemana kamu saudaraku pemuda? jika kamu tumbuh dewasa kamu akan fahami semua, jika kamu lekas berfikir arif dan bijaksana kamu akan temukan jalan kebaikan dari semua ini dan jika kamu benar benar matang dalam mempersiapkan ini kamu berhak akan kebahagiaan didunia dan ahkirat syaratnya kamu tinggalkan kebiasaan menyimpang ini yaitu mabuk cinta karna berpacaran.
Wahai saudaraku yang mulai memahami, fahamilah derita mabuk asmara sangatlah mengecewakan, banyak diantara pemuda resah dan gelisah karena cintanya terkhianati, sehingga keindahan hidup yang dia idamkan ternodai. sungguh tak dapat dilukiskan derita akibat sakit hati akibat pacaran.
Lalu bagaimana bagi mereka yang terlanjur melakukan kebiasaan ini dan sudah mendapati derita hati , dan sudah merasakan kekecewaan yang mendalam, apakah bisa diobati? jawabnya tentu karena setiap penyakit ada obatnya, termasuk penyakit derita hati ini.
Rosul Sholollohualaihi Wassalam Bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
Sedang penyembuhan penyakit hati ini kami kabarkan kepada kalian para pemuda memerlukan tekat meninggalkan cinta berbalut syahwat semata (Pacaran), kalian telah menebalkan coretan cinta kedalam kanfas yang tebal, kalian telah berlebihan memberikan cinta kepada seseorang, Bahkan kalian sudah melebihi ukuran tingginya cinta Kepada Alloh Aza Wajalla  dan RasulNya, dan kalian sudah melupakan para saudaramu seiman yang luar biasa usahanya ingin menjauhi mabuk cinta akibat pacaran ini,
Maka sudah sudah saatnya kalian menyembuhkan diri, reguklah obat ini, dan rangkulah tongkat pegangan ini, dan minumlah madu ini, yaitu dengan satu prinsip ” Mencintai sesuatu karena Alloh Ta’ala dam membenci sesuatu karena Alloh Ta’ala ” dengan prinsip ini kamu akan mendapatkan kekuatan akidah yang luar biasa hebatnya, kamu akan mendapatkan perisai dari kedukaan ini, kamu akan mendapatkan ganti yang lebih baik dari kekecewaan akibat coretan tinta yang tebal dan kamu akan bisa menghapusnya. Menjadikan hatimu manis dan berbunga-bunga karena merasakan kesejukan iman :  Rosul Sholollohualaihi Wassalam beliau bersabda:
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
 ”Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman.yaitu: menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”Rowahu Bikhariy
Pendahulu Yang Sholeh  berkata” Cintailah seseorang sekedarnya saja, sebab siapa tahu suatu saat engkau akan membencinya “
Saudaraku yang budiman, begitulah sangat mengharukan kisah percintaan yang baik dan sangat menyedihkan kisah pacaran yang memabukan. Semoga Alloh memudahkan kalian pemuda  mendapatkan jodoh yang terbaik tentu hanya dengan satu jalan yaitu KALIAN SEMUA HIJRAH BERKUMPUL DAN BERINTERAKSI DENGAN ORANG ORANG BAIK LAGI SHALIH. KALIAN BINALAH HUBUNGAN BAIK DENGAN PARA HAMBA BERILMU DAN KALIAN KUATKAN IMAN DAN AMAL BERSAMA MEREKA, sehingga kalian tak diragukan lagi akan mendapatkan kebaikan hidup dan kebaikan hidup sesudah mati bersama mereka.
Ingatlah musuh-musuhmu syaitan dari golongan jin dan manusia sering menakut nakuti termasuk pencipta kebiasaan pacaran ini yaitu kaum kafir , tapi balaslah bisikanya dengan keyakinan firmanNya :
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Robnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” Albaqarah ayat 112.
Dengan begitu selangkah lagi kamu menuju kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki didunia dan ahkirat  karna kamu meyakini kabar gembira dari -Nya Alloh berfirman : 
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” Anahl Ayat  97.Waullohua’lam bishowab.
Abu Amina Alanshariy
Diambil dari pengalaman ihkwah dan Maraji penulisan Thibbun Nabawiy Ibnu Qoyim Aljauziyah, Shahih Bukariy,Tafsir Ibnu Katsir
Posted by Unknown
Tag :

Sifat Api Neraka & Dahlilnya.

Diriwayatkan bahawa Yazid bin Martsad selalu menangis sehingga tidak pernah kering air matanya dan ketika ditanya, maka dijawabnya: Andaikata Allah s.w.t. mengancam akan memanjarakan aku didalam bilik mandi selama seribu tahun. nescaya sudah selayaknya air mataku tidak berhenti maka bagaimana sedang kini telah mengancam akan memasukkan aku dalam api neraka yang telah dinyalakan selama tiga ribu tahun?

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari mujahid berkata: "Sesungguhnya dijahannam ada beberapa perigi berisi ular-ular sebesar leher unta dan kala sebesar kaldai, maka larilah orang-orang ahli neraka keular itu, maka bila tersentuh oleh bibirnya langsung terkelupas rambut, kulit dan kuku dan mereka tidak dapat selamat dari gigitan itu kecuali jika lari kedalam neraka."

Abdullah bin Jubair meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bahawa didalam neraka ada ular-ular sebesar leher unta, jika menggigit maka rasa redih bisanya tetap terasa hingga empat puluh tahun. Juga didalam neraka ada kala sebesar kaldai, jika menggigit maka akan terasa pedih bisanya selama empat puluh tahun

Al-a'masy dari Yasid bin Wahab dari Ibn Mas'ud berkata: "Sesungguhnya apimu ini sebahagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka, dan andaikan tidak didinginkan dalam laut dua kali nescaya kamu tidak dapat mempergunakannya."

Mujahid berkata: "Sesungguhnya apimu ini berlindung kepada Allah s.w.t. dari neraka jahannam."

Rasulullah s.a.w.bersabda: "Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka iaitu seorang yang berkasutkan dari api nerka, dan dapat mendidihkan otaknya, seolah-olah ditelinganya ada api, dan giginya berapi dan dibibirnya ada wap api, dan keluar ususnya dari bawah kakinya, bahkan ia merasa bahawa dialah yang terberat siksanya dari semua ahli neraka, padahal ia sangat ringan siksanya dari semua ahli neraka."

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr r.a. berkata: "Orang-orang neraka memanggil Malaikat Malik tetapi tidak dijawab selama empat puluh tahun, kemudian dijawabnya: "Bahawa kamu tetap tinggal dalam neraka." Kemudian mereka berdoa (memanggil) Tuhan: "Ya Tuhan, keluarkanlah kami dari neraka ini, maka bila kami mengulangi perbuatan-perbuatan kami yang lalu itu bererti kami zalim."

Maka tidak dijawab selama umur dunia ini dua kali, kemudian dijawab: Hina dinalah kamu didalam neraka dan jangan berkata-kata."

Demi Allah setelah itu tidak ada yang dapat berkata-kata walau satu kalimah, sedang yang terdengar hanya nafas keluhan dan tangis rintihan yang suara mereka hampir menyamai suara himar (kaldai).

Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Kamu boleh menyebut tentang neraka sesukamu, maka tiada kamu menyebut sesuatu melainkan api neraka itu jauh lebih ngeri dan lebih keras daripadanya."



Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik r.a. berkata:
"Jibril datang kepada Nabi Muhammad s.a.w pada saat yang tiada biasa datang, dalam keadaan yang berubah mukanya, maka ditanya oleh Nabi Muhammad s.a.w: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?" Jawab Jibril: "Ya Muhammad , aku datang kepadamu pada saat dimana Allah menyuruh supaya dikobarkan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui  bahawa neraka jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya."

Lalu Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Ya Jibril, jelaskan kepadaku sifat jahannam."
Jawabnya: "Ya, ketika Allah menjadikan jahannam maka dinyalakan selama seribu tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun hingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.
Demi Allah yang mengutuskan engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.
Demi Allah yang mengutuskan engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung diantara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan baranya.
Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut Allah dalam Al-Quran itu diletakkan diatas bukit nescaya akan cair sampai kebawah bumi yang ketujuh.
Demi Allah yang mengutusmu dengan hak, andaikan seorang dihujung barat tersiksa nescaya akan terbakar orang-orang yang dihujung timur kerana sangat panasnya, jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan api. Api neraka itu ada mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagian yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

Nabi Muhammad s.a.w bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah-rumah kami?"
Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setangahnya dibawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan tujuh puluh ribu tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain tujuh puluh ribu tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain tujuh puluh kali ganda, maka digiring kesana musuh-musuh Allah s.w.t. sehingga bila telah sampai kepintunya disambut oleh malaikat-malaikat Zabaniyah dengan rantai dan belenggu, maka rantai itu dimasukkan kedalam mulut mereka hingga tembus kepantat, dan diikat tangan kirinya kelehernya, sedang tangan kanannya dimasukkan dalam dada dan tembus kebahunya, dan tiap-tiap manusia itu digandeng dengan syaitannya lalu diseret tersungkur mukanya sambil dipukul oleh para malaikat dengan pukul besi, tiap mereka ingin keluar kerana sangat risau, maka ditanamkan kedalamnya."

Nabi Muhammad s.a.w bertanya lagi: "Siapakah penduduk masing-masing pintu itu?"
Jawabnya: "Pintu yang terbawah untuk orang-orang munafiq, orang-orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mujizat Nabi Isa a.s. serta keluarga Firaun sedang namanya Alhawiyah. Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang-orang shobi'in bernama Saqar. Pintu keempat tempat iblis laknatullah dan pengikutnya dari kaum Majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu keenam tempat orang-orang kristien (Nasara) bernama Sa'ie."

Kemudian Jibril diam segan pada Nabi Muhammad s.a.w sehingga Nabi Muhammad s.a.w bertanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ketujuh?"
Jawab Jibril: "Didalamnya orang-orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat."

Maka Nabi Muhammad s.a.w jatuh pengsan ketika mendengar keterangan Jibril itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi Muhammad s.a.w dipangkuan Jibril sehingga sedar kembali, dan ketika sudah sedar Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummatku yang akan masuk neraka?"
Jawab Jibril: "Ya, iaitu orang yang berdosa besar dari ummatmu."

Kemudian Nabi Muhammad s.a.w menangis, Jibril juga menangis, kemudian Nabi Muhammad s.a.w masuk kedalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian masuk kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah s.w.t., dan pada hari ketiga datang Abu Bakar r.a. kerumah Nabi Muhammad s.a.w mengucapkan: "Assalamu'alaikum yang ahla baiti rahmah. apakah dapat bertemu kepada Nabi Muhammad s.a.w?"



Maka tidak ada yang menjawabnya, sehingga ia menepi untuk menangis, kemudian Umar datang dan berkata: "Assalamu'alaikum ya ahla baiti rahmah, apakah dapat bertemu dengan Rasulullah s.a.w?"

Dan ketika tidak mendapat jawapan dia pun menepi dan menangis, kemudian datang Salman Alfarisi dan berdiri dimuka pintu sambil mengucapkan: "Assalamu'alaikum ya ahla baiti rahmah, apakah dapat bertemu dengan Junjunganku Rasulullah s.a.w.?"

Dan ketika tidak mendapat jawapan, dia menangis sehingga jatuh dan bangun, sehingga sampai kerumah Fatimah r.a. dan dimuka pintunya ia mengucapkan: "Assalamu'alaikum hai puteri Rasulullah s.a.w."

Kebetulan pada masa itu Ali r.a. tiada dirumah, lalu bertanya: "Hai puteri Rasulullah, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah beberapa hari tidak keluar kecuali untuk sembahyang dan tidak berkata apa-apa kepada orang dan juga tidak mengizinkan orang-orang bertemu dengannya."

Maka segeralah Fatimah memakai baju yang panjang dan pergi sehingga apabila beliau sampai kedepan muka pintu rumah Rasulullah s.a.w dan memberi salam sambil berkata: "Saya Fatimah, ya Rasulullah."

Sedang Rasulullah s.a.w. bersujud sambil menangis, lalu Rasulullah s.a.w. mengangkat kepalanya dan bertanya: "Mengapakah kesayanganku?"

Apabila pintu dibuka maka masuklah Fatimah kedalam rumah Rasulullah s.a.w. dan ketika melihat Rasulullah s.a.w. menangislah ia kerana melihat Rasulullah s.a.w. pucat dan sembam muka kerana banyak menangis dan sangat sedih, lalu ia bertanya: "Ya Rasulullah, apakah yang menimpamu?"

Jawab Rasulullah s.a.w.: "Jibril datang kepadaku dan menerangkan sifat-sifat neraka jahannam dan menerangkankan bahawa bahagian yang paling atas dari semua tingkat neraka jahannam itu adalah untuk umatku yang berbuat dosa-dosa besar, maka itulah yang menyebabkan aku menangis dan berduka cita."

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Pada hari kiamat kelak akan didatangkan maut itu berupa kambing kibas putih hitam, lalu dipanggil orang-orang syurga dan ditanya: "Apakah kenal manut?" Maka mereka melihat dan mengenalnya, demikian pula ahli neraka ditanya: "Apakah kenal maut?" Mereka melihat dan mengenalnya, kemudian kambing itu disembelih diantara syurga dan neraka, lalu diberitahu: "Hai ahli syurga kini kekal tanpa mati, hai ahli neraka kini kekal tanpa mati."

Abu Hurairah r.a. berkata: "Janganlah gembira seorang yang lacur dengan suatu nikmat kerana dibelakangnya ada yang mengejarnya iaitu jahannam, tiap-tiap berkurang ditambah pula nyalanya." -DKM-

1Suka · ·
  • 24 orang menyukai ini.
Posted by Unknown
Tag :

Arsip Blog

Blogger templates

Labels

- Copyright © Education School Indonesia ( E.S.I ) -UNGGAH.FILE.INDONESIA- Powered by Blogger - Designed by Aditya -